
Jereweh KSB, Mediajejakdigital– Tradisi yang bertahan karena diwariskan. Ada pula yang terus hidup karena dirawat bersama. Itulah yang terlihat pada puncak Festival Muharram 1448 Hijriah di Desa Goa, Kecamatan Jereweh, Sabtu malam, 10 Muharram 2026.
Dari tahun ke tahun, festival ini tak hanya jadi ruang perayaan budaya, tapi juga memperlihatkan kuatnya keterlibatan masyarakat menjaga warisan leluhur.
Puncak festival dihadiri Bupati Sumbawa Barat H. Amar Nurmansyah, Wakil Bupati Hj. Hanipah Musyafirin, Dr. Ir. H. Musyafirin, M.M., unsur Forkopimda, pimpinan DPRD, Sekda, jajaran OPD, para camat se-KSB, perwakilan PT Amman Mineral, UNICEF, serta kepala desa.
Dalam sambutannya, Bupati mengapresiasi konsistensi masyarakat Desa Goa. “Masyarakat mampu mengembangkan festival ini jadi agenda budaya dengan penyelenggaraan semakin baik dan partisipasi warga terus meningkat,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan menghadirkan nilai relevan hingga kini. Mulai Tabligh Akbar sebagai penguat ketakwaan, tradisi Mangan Lawang Karang yang menegaskan semangat gotong royong, lomba selawatan dan Mesuro sebagai ruang edukasi, hingga tradisi Melala Minyak Jereweh yang diikuti 20 kelompok untuk menjaga warisan pembuatan minyak obat tradisional.
Momen khusus terjadi saat Bupati bersama H. Musyafirin menyepakati perubahan istilah lokal. Sisa proses pembuatan minyak yang semula disebut “Tai Minyak” resmi diubah menjadi “Sari Minyak”. Perubahan ini agar istilah lebih elok, bernilai estetis, dan mudah diterima masyarakat maupun wisatawan yang menyaksikan proses melala. (Arip/mjd)
