Sumbawa Besar, Mediajejakdigital – Rencana peningkatan tarif PDAM Kabupaten Sumbawa sedang diperdebatkan. Saat ini, tarif per meter kubik hanya Rp 2.900, sedangkan biaya produksi mencapai Rp 3.500, membuat Pemerintah Daerah (Pemda) menanggung defisit Rp 600 per unit.
Merespon rencana tersebut, Wakil Ketua DPD Partai Gelora Kabupaten Sumbawa Muhammad Isnaini, SH, Senin (20/1/2025), menekankan bahwa peningkatan tarif perlu dipertimbangkan kembali agar tidak menjadi boomerang di masa depan.
Isnaini mengungkapkan bahwa keluhan warga tentang layanan PDAM terus-menerus terjadi setiap hari. Mulai dari pasokan air yang kurang, air yang berwarna coklat saat tiba, hingga pemadaman air selama 2-3 hari berturut-turut yang bergantian antar wilayah.
“Ini persoalan serius dan perlu kajian mendalam. Bahkan jika hanya dinaikkan Rp 100, harus dipertimbangkan dan dipertanggungjawabkan Pemda. Tarif naik tapi pelayanan dan fasilitas tetap sama? Ini tidak boleh,” tegasnya.
Menurut Isnaini, Pemda tidak boleh hanya berdalil kerugian. Ia menekankan bahwa tidak elok bagi pemerintah untuk menghitung untung rugi terhadap kebutuhan mendasar masyarakat seperti air bersih.
Ia menambahkan, yang paling penting adalah kualitas air, kepastian pasokan, dan jaminan air mengalir setiap waktu. Namun, situasi saat ini malah menunjukkan Pemda lebih sibuk urus untung rugi, seolah-olah sedang berbisnis dengan warga.
“Kalau naikkan tarif berdasarkan untung rugi, ingatlah: Pemda bukan kerajaan bisnis yang menghitung untung rugi, tapi lembaga yang memberikan pelayanan mendasar kepada masyarakat,” tegas Isnaini dengan tegas.
Partai Gelora menyatakan akan selalu mendukung kebijakan Pemda yang bermanfaat bagi masyarakat. Namun, jika kebijakan merugikan warga Sumbawa – termasuk rencana naik tarif PDAM – partai itu akan gagah berdiri bersama masyarakat dan meminta agar rencana tersebut dipertimbangkan kembali. (HARTADI/mjd)
