
Taliwang KSB, Mediajejakdigital.net – Transformasi pelayanan kesehatan di Kabupaten Sumbawa Barat -KSB- terus diarahkan menuju sistem yang lebih proaktif, terintegrasi, dan berbasis kebutuhan masyarakat.
Melalui inovasi SIAGA PRIMA KSB, Kepala Dinas Kesehatan KSB, dr. Carlof, M.MRS, MQM, menggagas perubahan mendasar dalam cara pemerintah mengenali risiko kesehatan dan memberikan pelayanan.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui Proyek Perubahan dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XIII Tahun 2026 yang diselenggarakan BPSDMD Provinsi NTB.
Mengusung tema “Dari Data ke Aksi: Membaca Risiko, Menjemput Sasaran, Mendekatkan Layanan”, proyek perubahan ini berhasil memperoleh predikat Sangat Memuaskan dan menempati peringkat II dari 39 proyek perubahan peserta PKN II Angkatan XIII Tahun 2026.
Capaian tersebut menjadi pengakuan terhadap gagasan transformasi pelayanan kesehatan yang tidak berhenti pada konsep, tetapi telah memasuki tahap implementasi melalui penguatan sistem pelayanan kesehatan primer di KSB.
SIAGA PRIMA KSB merupakan akronim dari Sistem Integrasi dan Akselerasi Gerakan Pelayanan Primer Berbasis Risiko Kabupaten Sumbawa Barat.
Inovasi ini lahir untuk mengubah pola pelayanan yang cenderung menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan, menjadi pelayanan yang aktif menemukan risiko, menjangkau sasaran, dan memberikan intervensi sedini mungkin.
“Kesehatan tidak boleh menunggu. Kita tidak bisa hanya menunggu masyarakat datang ke Puskesmas ketika sudah sakit. Sistem kesehatan harus mampu membaca risiko lebih awal, mengetahui siapa yang membutuhkan pelayanan, dan memastikan petugas hadir memberikan respons yang tepat,” ujar dr. Carlof.
Menurutnya, data kesehatan tidak boleh hanya menjadi angka dalam laporan. Data harus menjadi dasar pengambilan keputusan, penentuan prioritas, dan tindakan nyata di lapangan.
“Melalui SIAGA PRIMA KSB, kita ingin memastikan setiap data memiliki makna, setiap risiko mendapatkan perhatian, dan setiap kebutuhan kesehatan masyarakat dapat ditindaklanjuti,” tegasnya.
SIAGA PRIMA KSB dikembangkan melalui pendekatan Satu Sistem, Tiga Pilar yang mengintegrasikan pengelolaan data, penguatan sistem, dan pelaksanaan pelayanan.
Pilar pertama, SIAGA DATA, berfokus pada penguatan pemetaan risiko kesehatan masyarakat berbasis wilayah. Puskesmas didorong tidak hanya mencatat kunjungan, tetapi juga mengidentifikasi kelompok masyarakat yang memiliki risiko kesehatan dan belum mendapatkan pelayanan.
Pilar kedua, SIAGA SISTEM, diarahkan untuk memperkuat integrasi dan koordinasi pelayanan melalui pemanfaatan teknologi informasi, pengembangan sistem komunikasi, serta penguatan jejaring antara Dinas Kesehatan, Puskesmas, Pustu, Posyandu, dan fasyankes lainnya.
Salah satu pengembangannya adalah integrasi TRC Ambulans melalui konsep TRC Satu Komando yang didukung Aplikasi KSB Maju.
Pilar ketiga, SIAGA LAYANAN, berorientasi pada pelayanan yang semakin dekat dengan masyarakat. Diwujudkan melalui penguatan pelayanan luar gedung, kunjungan rumah atau home care, skrining kesehatan berbasis risiko, edukasi, pelayanan primer terintegrasi, serta penguatan sistem rujukan.
SIAGA PRIMA KSB bukan program yang berdiri sendiri. Inovasi ini dikembangkan untuk memperkuat pelaksanaan program daerah KSB Maju, khususnya Maju Kesehatan, melalui integrasi berbagai layanan yang telah berjalan.
Penguatan tersebut mencakup pelayanan TRC Ambulans berbasis Puskesmas, integrasi layanan primer melalui jejaring Puskesmas, Pustu, dan Posyandu, pengembangan pelayanan home care, serta pemanfaatan teknologi konsultasi kesehatan jarak jauh atau telemedicine.
“Program KSB Maju Kesehatan telah memberikan fondasi pelayanan yang kuat. Melalui SIAGA PRIMA, kita memperkuat integrasinya agar pelayanan semakin tepat sasaran, berbasis risiko, dan mampu menjangkau masyarakat secara aktif,” jelas dr. Carlof.
Pada tahap awal, SIAGA PRIMA KSB telah memasuki fase uji coba pada Puskesmas pilot sebagai dasar pengembangan dan perluasan implementasi secara bertahap.
“Target kita bukan sekadar membangun sebuah inovasi, tetapi membangun cara kerja baru yang berkelanjutan. Teknologi adalah alat, sedangkan tujuan utamanya adalah memastikan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkan secara cepat, tepat, dan terintegrasi,” ungkapnya.
SIAGA PRIMA KSB di-launching secara resmi oleh Bupati Sumbawa Barat pada 1 Oktober 2026. Pengembangannya mendapat pendampingan langsung dari Sekretaris Daerah KSB, drh. Hairul, MM, selaku mentor dalam pelaksanaan Proyek Perubahan.
Implementasi SIAGA PRIMA juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk perangkat daerah terkait, fasyankes, tenaga kesehatan, pemerintah desa, serta unsur masyarakat.
Melalui pendekatan ini, Pemkab Sumbawa Barat diharapkan semakin mampu mengidentifikasi kebutuhan kesehatan masyarakat lebih dini, mengurangi kesenjangan akses pelayanan, dan memperkuat efektivitas program kesehatan.
Dari data menjadi keputusan. Dari keputusan menjadi tindakan. Dari pelayanan yang menunggu menjadi pelayanan yang aktif menjangkau masyarakat. (Arip/mjd)
