BGN Dinilai Tutup Mata: Hak Gizi Siswa Dipertaruhkan

Sumbawa Besar, Mediajejakdigital– Tak hanya soal penutupan dapur, kualitas menu MBG juga menuai kritik keras. Salah satu perwakilan sekolah, Suhaji, menyebut menu terakhir jauh dari standar gizi yang telah disepakati.
 
“Pernah hanya ikan teri goreng dicampur kacang, tempe sebesar telunjuk. Kalau boleh jujur, itu seperti nasi kucing harga tiga sampai empat ribu,” ungkapnya.
 
Menurutnya, standar menu sudah dibahas dan disepakati dalam rapat resmi di kantor camat. “Kalau nasi, ya nasi. Jangan diganti roti. Ini harus jadi evaluasi serius Dapur 2,” tegasnya.
 
Sorotan tajam juga datang dari Ketua Yayasan Lingkungan Hidup Nusra, Baehaqi Purnawan ST, yang menilai penutupan dua dapur MBG Empang dan Tarano sebagai langkah tidak proporsional dan merugikan masyarakat.
 
“Ini hanya konflik internal antara yayasan dan kontraktor pembangunan dapur. Seharusnya tidak berdampak ke penerima manfaat,” kata Baehaqi.
 
Ia menegaskan bahwa seluruh kesepakatan kontrak, termasuk sewa kendaraan operasional, telah dituangkan secara notaris dan berjalan sesuai aturan.
 
Lebih jauh, Baehaqi menuding adanya maladministrasi yang kuat, terutama dalam aspek komunikasi dan etika kelembagaan.
 
“SPPG tidak bersurat secara resmi ke yayasan. Ini lembaga negara, bukan warung kopi. Masa hanya lisan? Ini jelas pelanggaran etika administrasi,” tegasnya. (Arman/mjd) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *