Inovasi Kerupuk Jamur: Kreativitas Lokal Penggerak Ekonomi Desa

Penulis : Tim KKL UNSA Mapin kebak

Sumbawa Besar-NTB, Mediajejakdigital–Di tengah tantangan ekonomi dan persaingan pasar yang semakin ketat, inovasi menjadi kunci penting dalam mendorong kemajuan desa. 

Kreativitas warga tidak hanya menjadi sarana untuk bertahan hidup, tetapi juga mampu menjadi penggerak roda ekonomi. Salah satu warga dari Desa Mapin Kebak, Kecamatan Alas Barat, Kabupaten Sumbawa, melalui sosok Muhammad Bakri, S.P., atau yang akrab disapa Pak Morry. Ia berhasil mengubah keterbatasan menjadi sumber ekonomi.

Jamur Tiram menjadi peluang usaha yang mumpuni, sekaligus sebagai daya tarik dunia pendidikan, beberapa sekolah menengah kejuruan hingga Akademisi datang untuk belajar dalam kerangka pelatihan sebagi ajang peningkatan pengetahuan.

Budidaya jamur tiram memiliki potensi besar. Tanaman ini kaya nutrisi, mudah dibudidayakan, dan memanfaatkan limbah pertanian sebagai media tanam. Namun, masa simpan jamur segar yang singkat sering kali menjadi kendala. Jika pasar tidak menyerap hasil panen dengan cepat, kerugian tidak dapat dihindari.

Pak Morry memulai budidaya jamur tiram pada 2015 dengan memanfaatkan lahan di sekitar rumahnya. Pada awalnya, pemasaran dilakukan dalam bentuk jamur segar. Namun, ketika pandemi COVID-19 melanda dan pasokan gas elpiji terbatas, penjualan menurun drastis. Kondisi ini mendorongnya mencari solusi baru. Pada 2022, ia menemukan terobosan dengan mengolah jamur menjadi kerupuk, yang memiliki masa simpan lebih lama dan nilai jual lebih tinggi.

“Kalau jamur segar itu harus cepat laku, kalau tidak ya rugi. Dari situ saya berpikir, kenapa tidak diolah saja jadi kerupuk? Selain tahan lama, rasanya juga bisa diterima semua orang,” ujar Pak Morry saat ditemui di rumah produksinya.

Kerupuk jamur produksi Pak Morry dijual dengan harga Rp5.000 per bungkus dan dipasarkan ke berbagai instansi, sekolah, hingga puskesmas.

Omzet yang dihasilkan mampu mencapai Rp.6 juta per bulan. Usaha ini tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi ibu rumah tangga di wilayahnya dalam proses produksi.

“Sekarang alhamdulillah, usaha ini bisa membantu ekonomi keluarga dan juga memberi penghasilan tambahan untuk ibu-ibu sekitar sini,” tambahnya.

Manfaat inovasi ini tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga oleh desa secara keseluruhan. Data Kementerian Koperasi dan UKM (2024) menunjukkan bahwa sektor UMKM berkontribusi sebesar 61,1% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, dan sekitar 74% pelaku UMKM berada di wilayah perdesaan. Artinya, jika usaha kecil seperti yang dilakukan Pak Morry mendapat dukungan dan berkembang, dampaknya akan sangat signifikan terhadap ketahanan ekonomi nasional.

Namun, tantangan tetap ada. Keterbatasan modal, akses teknologi, dan jaringan pemasaran masih menjadi hambatan bagi pelaku usaha desa.

Pemerintah daerah diharapkan memberikan dukungan nyata bagi pelaku usaha kreatif seperti Pak Morry. Bantuan yang diberikan sebaiknya tidak hanya berupa modal awal, tetapi juga pendampingan berkelanjutan, pelatihan manajemen, serta fasilitasi pemasaran. Dengan dukungan yang tepat, usaha kecil di desa memiliki peluang untuk berkembang dan menembus pasar yang lebih luas.

Kisah Pak Morry menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi desa dapat lahir dari ide sederhana yang dieksekusi dengan kerja keras dan ketekunan. Desa-desa di seluruh Indonesia memiliki potensi serupa. Tantangannya adalah bagaimana memberikan ruang dan dukungan agar lebih banyak inovasi lahir, membawa manfaat nyata bagi masyarakat. (KKL UNSA/mjd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *